Minggu, 10 Mei 2015

Tugas IBD 2 Postingan 2

Contoh kasus yang berhubungan dengan Manusia dan Kegelisahaan

Didi  anak laki-laki  berumur  10 tahun.  Ia duduk  di kelas  V SO. Pada  suatu  hari ia diberitahu  ayahnya,  bahwa bulan depan ayahnya  dipindahkan  ke kota lain. Mereka sekeluarga  harus  pindah.  Sudah  tentu Didi harus  ikut. Jadi  ia harus  pindah  sekolah di kota tempat ayahnya  bertugas.  Ibu Didi nampak  gelisah, karena tinggal  di tempat yang lama ia sudah betah, berkat adanya seorang ibu yang aktif mengumpulkan   dan memajukan  ibu-ibu.  Lebih-Iebih  Didi, karena  baik di kampung  maupun  di sekolah Didi banyak kawannya.  Karena itu ia takut kalau di tempat yang bam  kelak ia tidak akan merasa  betah.  Bila tidak ikut pindah,  akan  ikut siapa,  ikut pindah  bagaimana di tempat  yang  bam  nanti.  Ia takut pada  bayangannya  sendiri.

Contoh Resensi

Bila Tuhan Mesti Bertanggung Jawab Atas Musibah
Oleh: A Sudiarja SJ
Judul Buku          :Membongkar Derita
Penulis                 :Paulus Budi Kleden
Penerbit              :Ledalero,cetakan ke-2, 2006.
                                 140 x 210 mm,xiv +349 hlm.

Dua tahun sudah gempa dan tsunami Aceh dan Nias yang menelan korban 200.000 jiwa berlalu,tetapi pemulihanya belum selesai sama sekali.Musibah besar itu telah mengunggah hati begitu banyak orang untuk terlibat, memberkan sumbangan menjadi relawan “kemanusiaan”.
Akan tetapi, lebih jauh, musibah itu bisa menjadi inspirasi untuk permenungan agama, mengenai posisi Allah yang “Maha Baik” dan “Maha Kuasa” berhadapan dengan bencana yang terjadi di dunia ciptaanya.Salah satu orang yang terinspirasi untuk menuliskan renungan itu adalah paul budi kleden. Bukunya berjudul Membongkar derita. Teodice: Sebuah Kegelisahaan Filsafat dan Teologi
(Ledalero,2006).
Suara Korban dan Suara Pemerhati
Berhadapan dengan musibah dan penderitaan, ada dua kemungkinan posisi manusia, yaitu para korban yang mengalami sendiri dan mereka yang tidak mengalami, tetapi menaruh kepedulian. Secara psikologis, kelompok korban adalah pihak yang diam, bisu, tidak mampu bicara. Yang mampu bicara dan mengatasnamakan korban adalah mereka yang tidak terlibat langsung, tetapi peduli.
Susunan Teodice (2006) tampaknya memperlihatkan kesesuaian dengan pembagian ini. Sebelum memasuki bagian kedua tentang teodice, Budi Kleden mencoba mempersoalkan penderitaan itu sendiri. Dari pihak korban, kesulitan itu sangat dirasakan sebab pembicaraan tentang musibah dan penderitaan hanya akan mengulang rasa sakit dan ketidakenakan yang dialaminya. Oleh sebab itu, banyak korban yang lebih suka diam.
Filsafat mengakui adanya berbagai macam bahasa yang digunakan manusia untuk mengartikulasikan diri. Wittgenstein menyebutnya sprachspiel atau permainan bahasa (hal 54). Ungkapan, pernyataan, atau artikulasi penderitaan yang dialami langsung oleh korban berupa jeritan kepedihan yang biasanya tidak bersifat diskursif, tetapi sangat ekspresif dan intensif.
Seni pada umumnya dianggap sebagai “bahasa” yang mengena untuk mengartikulasikan hal-hal yang berkait dengan kepedihan. Dalam kerangka pemikiran inilah kiranya pernyataan Adorno bisa dipahami: “…sesudah Auschwitz tidak mungkin lagi orang menulis puisi. Menulis puisi sesudah Auschwitz adalah sebuah kebiadaban” (hal 37).
Genosida, yang disimbolkan dengan Auschwitz, di kamp konsentrasi di Polandia yang diciptakan Hitler itu begitu ngeri, sampai puisi (baca: seni) pun tidak mampu lagi mengartikulasikan jeritan korban. Diam, tanpa artikulasi apa pun, yang berarti juga melupakan penderitaan masa lampaunya, merupakan jalan keluar terakhir untuk menyelamatkan diri. Para pemerhati korban, teis ataupun ateis berada dalam posisi yang berbeda, kalau tidak bisa dikatakan berlawanan dengan para korban yang mengalami langsung penderitaan atau musibah. Sementara para korban hanya bisa diam, para pemerhatilah yang mampu berteriak keras menyuarakan penderitaan para korban.
Namun, sementara para pemerhati ateis menyangkal eksistensi Allah, dengan pretensi membela korban, pemerhati teis membela eksistensi dan keadilan (dike) Allah (theos) sambil berusaha menghibur korban dan mendamaikannya dengan kehendak Allah yang belum dipahaminya.
Berbagai Aliran “Teodice”
Dalam Teodice (2006) Budi Kleden memaparkan panorama teodice dalam empat kerangka, teori dosa dari Agustinus merupakan salah satu bagian darinya (hal 173 dan seterusnya). Semua kerangka pemikiran tersebut berasal dari latar belakang filsafat dan teologi Barat, kecuali Hinduisme dan Buddhisme, yang disebut dalam satu bagian kecil dari paparan mengenai kerangka pemikiran tentang keharmonisan (hal 128).
Dua kerangka lainnya adalah teori privatio boni (ketiadaan kebaikan) ketika tokoh Agustinus dimunculkan lagi (hal 147) dan teodice yang otentik, yang memapaparkan, antara lain, pemikiran Immanuel Kant yang mendapat inspirasi dari gempa bumi di Lisabon tahun 1775 (hal 195). Teori dosa asal dari Agustinus dikemukakan oleh penulis tidak dengan mengaitkan dosa dan penderitaan sebagai hubungan sebab akibat yang langsung, melainkan secara prinsip saja. Mengartikan penderitaan sebagai hukuman langsung dari Allah atas individu yang berdosa akan berakhir dengan kenaifan karena tidak jarang yang terkena musibah dan penderitaan justru bukan orang yang berdosa, sebagaimana diilustrasikan Budi Kleden dengan novel La Peste, karangan Albert Camus. Di situ dilukiskan banyak anak-anak tak berdosa ikut mati sebagai korban (hal 186-189).
Sementara itu, kerangka pemikiran tentang keharmonisan dalam teodice menempatkan keadilan Allah dalam pemahaman bahwa keburukan (malum) tidak bertentangan, melainkan sejalan dengan kebaikan Ilahi. Bagi Agustinus, “penderitaan memperindah panorama kehidupan” karena merupakan bagian dari keteraturan yang lebih tinggi, yang sering tidak kita lihat sehingga tidak perlu diprihatinkan. Apa pun ungkapan kebijakan yang bisa muncul dari bencana, yang jelas Budi Kleden memperingatkan kesulitan untuk menerima “kehancuran alam dan keretakan batin manusia” sebagai sarana yang dikehendaki Allah untuk “tujuan yang mulia, yakni mempersatukan manusia pendosa ke dalam tatanan yang harmonis” (hal 98).
Pemikiran lain yang disebut dalam buku Kleden menyangkut kerangka keharmonisan adalah pemikiran Leibniz tentang kemungkinan terbaik dari dunia ciptaan (the best possible world). Bisa dibayangkan bahwa penciptaan manusia yang bebas merupakan pokok yang menjadi persoalan di sini karena Allah tidak bisa memangkas konsekuensi dari penciptaan-Nya, yakni kebebasan manusia yang konsekuensinya bisa memilih dan mendatangkan keburukan. Dalam kerangka pemikiran privatio boni, teodice menempatkan keburukan (malum) sebagai ketiadaan kebaikan saja. Sebagai ketiadaan atau kekosongan, keburukan tidak mempunyai substansi yang perlu dikhawatirkan. Keburukan bukanlah prinsip dan karenanya juga tidak menotalisasi.
Tidak ada keburukan yang menyeluruh di dunia. Setiap yang buruk selalu hanya dalam arti parsial, bagian tertentu dari sesuatu; keburukan hanya membonceng pada kebaikan. Dalam kerangka pemikiran ini penulis Teodice sekali lagi memasukkan tokoh Agustinus, yang pemikirannya tentang teodice rupanya mencakup hampir semua kerangka yang dipaparkan.
“Teodice” Yang Otentik
Budi Kleden mengakhiri rentetan ulasan teodice-nya dengan mengemukakan ajaran Immanuel Kant sebagai teodice yang otentik (hal 195). Bagi Kant, problem teodice terletak pada penggunaan rasio yang berlebihan, yang melampaui batas kemungkinannya untuk berpikir logis, lebih dari itu dengan berkutat pada rasio atau logika dalam pembicaraan tentang keadilan Allah, teodice mempersempit kodrat manusia sekadar sebagai makhluk rasional.
Bagi Immanuel Kant secara keseluruhan manusia lebih dari sekadar makhluk rasional. Ini karena selain rasio murni untuk memahami dan rasio praktis untuk menjalankan tindakan, manusia juga mempunyai daya perasaan untuk mempertimbangkan tujuan tindakan.
Dari sini bisa ditarik pengertian yang lebih luas tentang perlunya tujuan terakhir segala sesuatu menuju kesatuan yang menyeluruh. Manusia tidak saja menjadi tujuan pada dirinya, melainkan juga tujuan akhir dari seluruh ciptaan. Oleh karena itu, ajaran Kant amat penting dalam mempromosikan martabat “kemanusiaan”.
Kant mengemukakan fahamnya tentang teodice yang otentik, yakni “membiarkan Allah sendiri menjadi penafsir dan pemberi keterangan mengenai relasi antara kehendak-Nya dan keadaan dunia…. Teodice yang otentik meminta pertanggungan jawab dari Allah, tetapi memberikan hak kepada Allah untuk membela diri berkenaan dengan tuduhan yang muncul karena adanya malum di dunia” (hal 220-221).
Dengan kata lain, manusia—filsuf atau teolog—tidak seharusnya memberi keterangan seolah bisa mewakili penalaran Allah sendiri. Namun, dalam arti ini, tampak bahwa teodice bergeser bukan lagi pembelaan Allah sebagaimana lazimnya dimengerti, melainkan justru merupakan semacam tuntutan kepada Allah untuk memberikan penjelasan terhadap persoalan malum. Masalahnya, apakah Allah pernah akan menjawab tuntutan semacam ini? Kalau tidak melalui penalaran teodice para filsuf dan teolog, lantas melalui cara manakah Allah bisa diharapkan untuk memberikan penjelasannya?
Dari “teodice” ke Teologi Harapan
Dalam dua bagian akhir buku Teodice, Budi Kleden membicarakan atribut-atribut Allah (bagian ketiga) dan Allah yang menderita (bagian empat). Kedua bagian ini merupakan telaah yang sangat sukar untuk pembaca biasa karena bagaimana pun juga terpaksa berspekulasi tentang Allah.
Namun, yang menarik, berbeda dari pemahaman kita sehari-hari yang kurang kritis, Teodice menawarkan refleksi yang seolah bisa menelanjangi Allah, bahkan dalam sifat-sifat kelemahan-Nya. Dalam bagian ketiga, misalnya, dikemukakan antara lain pandangan Hans Jonas bahwa Allah tidak berdaya sebagai risiko dari penggunaan kemahakuasaan-Nya untuk mencipta manusia dengan kebebasannya.
David Blumental menerangkan bahwa dalam diri-Nya, Allah juga merangkum kejahatan. Ada “kebukan-baikan” dalam diri Allah, yang bisa dirasa melecehkan manusia ciptaanNya. Manusia harus mengajukan protes terhadap Allah, kata Blumental (hal 258), karena Allah ikut bertanggung jawab atas hasil ciptaan-Nya. Tokoh ketiga yang diajukan penulis adalah Wolfgang Borchert yang mengajak orang beriman merenungkan ulang providentia dei (penyelenggaraan ilahi) setelah didapatinya Allah lepas kontrol terhadap ciptaan-Nya. Providentia dei yang baru menempatkan penafsiran tentang Allah mengikuti faham “Teologi Proses”, yang melihat rencana ilahi bukan sebagai sesuatu takdir yang sudah jadi, melainkan sedikit banyak tergantung juga pada tanggung jawab manusia.
Bagian terakhir dari buku memperlihatkan ciri Kristiani dari teodice karena bicara mengenai Allah yang menderita dan salib. Oleh penulis ditampilkan Eberhard Jüngel yang memperlihatkan kemahakuasaan Allah dalam cinta, melalui Yesus Kristus dan teologi Jürgen Moltman yang mengangkat harapan dari refleksi mendalam tentang peristiwa salib. Menurut Moltman, dalam Allah sendiri terdapat dialektika.
Pada akhir buku ini, penulis mengutarakan, inti harapan manusia terletak pada kenyataan bahwa Allah solider pada manusia yang menderita. Di satu pihak dia tidak bisa menolong menghilangkan penderitaan yang terjadi di dunia karena dosa, dari lain pihak dia bukan tidak berbuat apa-apa. Penderitaan Yesus disalib merupakan ungkapan paling nyata dari solidaritas tersebut. Namun, inti persoalannya bukan penderitaan itu sendiri, betapa pun ngerinya penderitaan pada salib, melainkan cinta Allah yang solider itu. Ini karena, penderitaan sendiri tidak bermakna, atau dari penderitaan tidak dapat ditangkap secara langsung motivasi kebaikan Allah. Padahal, justru dalam penderitaan itulah terlaksana atribut-atribut kemahabaikan dan kemahakuasaan Allah (hal 323).
Akhir Kata
Teodice (2006) merupakan buku dengan topik yang diulas secara mendalam dan kaya akan refleksi yang menarik karena di situ dipersoalkan hubungan dilematik antara kemahakuasaan dan kemahabaikan Allah dengan penderitaan manusia, atau adanya malum di dunia.
Di dalamnya banyak gagasan baru yang jarang kita dengar tentang Allah karena kita terbiasa dengan pemikiran kesalehan yang naif dan tidak kritis. Namun, buku ini, meskipun sudah diberi ilustrasi dengan teks-teks dari kesusastraan dan contoh-contoh tentang penderitaan pada bagian depan, tetap merupakan telaah teologis yang berat sehingga hanya mereka yang sudah belajar filsafat dan teologi saja, atau orang yang mau merenungkan imannya secara serius, yang bisa memahaminya.

Sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar