Contoh kasus yang berhubungan dengan Manusia dan Kegelisahaan
Didi anak laki-laki berumur 10
tahun. Ia duduk di kelas V SO. Pada suatu hari ia
diberitahu ayahnya, bahwa bulan depan ayahnya
dipindahkan ke kota lain. Mereka sekeluarga harus
pindah. Sudah tentu Didi harus ikut. Jadi ia
harus pindah sekolah di kota tempat ayahnya bertugas.
Ibu Didi nampak gelisah, karena tinggal di tempat yang lama ia
sudah betah, berkat adanya seorang ibu yang aktif mengumpulkan dan
memajukan ibu-ibu. Lebih-Iebih Didi, karena baik di
kampung maupun di sekolah Didi banyak kawannya. Karena itu ia
takut kalau di tempat yang bam kelak ia tidak akan merasa
betah. Bila tidak ikut pindah, akan ikut siapa, ikut
pindah bagaimana di tempat yang bam nanti. Ia
takut pada bayangannya sendiri.
Contoh Resensi
Bila Tuhan Mesti Bertanggung Jawab Atas Musibah
Oleh: A Sudiarja SJ
Judul Buku :Membongkar
Derita
Penulis :Paulus Budi Kleden
Penerbit :Ledalero,cetakan
ke-2, 2006.
140 x 210 mm,xiv +349 hlm.
Dua tahun sudah gempa dan tsunami Aceh dan Nias yang menelan
korban 200.000 jiwa berlalu,tetapi pemulihanya belum selesai sama
sekali.Musibah besar itu telah mengunggah hati begitu banyak orang untuk
terlibat, memberkan sumbangan menjadi relawan “kemanusiaan”.
Akan tetapi, lebih jauh, musibah itu bisa menjadi inspirasi
untuk permenungan agama, mengenai posisi Allah yang “Maha Baik” dan “Maha Kuasa”
berhadapan dengan bencana yang terjadi di dunia ciptaanya.Salah satu orang yang
terinspirasi untuk menuliskan renungan itu adalah paul budi kleden. Bukunya
berjudul Membongkar derita. Teodice: Sebuah Kegelisahaan Filsafat dan Teologi
(Ledalero,2006).
Suara Korban dan Suara Pemerhati
Berhadapan dengan musibah dan penderitaan, ada dua
kemungkinan posisi manusia, yaitu para korban yang mengalami sendiri dan mereka
yang tidak mengalami, tetapi menaruh kepedulian. Secara psikologis, kelompok
korban adalah pihak yang diam, bisu, tidak mampu bicara. Yang mampu bicara dan
mengatasnamakan korban adalah mereka yang tidak terlibat langsung, tetapi
peduli.
Susunan Teodice (2006) tampaknya memperlihatkan kesesuaian
dengan pembagian ini. Sebelum memasuki bagian kedua tentang teodice, Budi
Kleden mencoba mempersoalkan penderitaan itu sendiri. Dari pihak korban,
kesulitan itu sangat dirasakan sebab pembicaraan tentang musibah dan
penderitaan hanya akan mengulang rasa sakit dan ketidakenakan yang dialaminya.
Oleh sebab itu, banyak korban yang lebih suka diam.
Filsafat mengakui adanya berbagai macam bahasa yang
digunakan manusia untuk mengartikulasikan diri. Wittgenstein menyebutnya
sprachspiel atau permainan bahasa (hal 54). Ungkapan, pernyataan, atau
artikulasi penderitaan yang dialami langsung oleh korban berupa jeritan
kepedihan yang biasanya tidak bersifat diskursif, tetapi sangat ekspresif dan
intensif.
Seni pada umumnya dianggap sebagai “bahasa” yang mengena
untuk mengartikulasikan hal-hal yang berkait dengan kepedihan. Dalam kerangka
pemikiran inilah kiranya pernyataan Adorno bisa dipahami: “…sesudah Auschwitz
tidak mungkin lagi orang menulis puisi. Menulis puisi sesudah Auschwitz adalah
sebuah kebiadaban” (hal 37).
Genosida, yang disimbolkan dengan Auschwitz, di kamp
konsentrasi di Polandia yang diciptakan Hitler itu begitu ngeri, sampai puisi
(baca: seni) pun tidak mampu lagi mengartikulasikan jeritan korban. Diam, tanpa
artikulasi apa pun, yang berarti juga melupakan penderitaan masa lampaunya,
merupakan jalan keluar terakhir untuk menyelamatkan diri. Para pemerhati
korban, teis ataupun ateis berada dalam posisi yang berbeda, kalau tidak bisa
dikatakan berlawanan dengan para korban yang mengalami langsung penderitaan
atau musibah. Sementara para korban hanya bisa diam, para pemerhatilah yang
mampu berteriak keras menyuarakan penderitaan para korban.
Namun, sementara para pemerhati ateis menyangkal eksistensi
Allah, dengan pretensi membela korban, pemerhati teis membela eksistensi dan
keadilan (dike) Allah (theos) sambil berusaha menghibur korban dan mendamaikannya
dengan kehendak Allah yang belum dipahaminya.
Berbagai Aliran “Teodice”
Dalam Teodice (2006) Budi Kleden memaparkan panorama teodice
dalam empat kerangka, teori dosa dari Agustinus merupakan salah satu bagian
darinya (hal 173 dan seterusnya). Semua kerangka pemikiran tersebut berasal
dari latar belakang filsafat dan teologi Barat, kecuali Hinduisme dan
Buddhisme, yang disebut dalam satu bagian kecil dari paparan mengenai kerangka
pemikiran tentang keharmonisan (hal 128).
Dua kerangka lainnya adalah teori privatio boni (ketiadaan
kebaikan) ketika tokoh Agustinus dimunculkan lagi (hal 147) dan teodice yang
otentik, yang memapaparkan, antara lain, pemikiran Immanuel Kant yang mendapat
inspirasi dari gempa bumi di Lisabon tahun 1775 (hal 195). Teori dosa asal dari
Agustinus dikemukakan oleh penulis tidak dengan mengaitkan dosa dan penderitaan
sebagai hubungan sebab akibat yang langsung, melainkan secara prinsip saja.
Mengartikan penderitaan sebagai hukuman langsung dari Allah atas individu yang
berdosa akan berakhir dengan kenaifan karena tidak jarang yang terkena musibah
dan penderitaan justru bukan orang yang berdosa, sebagaimana diilustrasikan
Budi Kleden dengan novel La Peste, karangan Albert Camus. Di situ dilukiskan
banyak anak-anak tak berdosa ikut mati sebagai korban (hal 186-189).
Sementara itu, kerangka pemikiran tentang keharmonisan dalam
teodice menempatkan keadilan Allah dalam pemahaman bahwa keburukan (malum)
tidak bertentangan, melainkan sejalan dengan kebaikan Ilahi. Bagi Agustinus,
“penderitaan memperindah panorama kehidupan” karena merupakan bagian dari
keteraturan yang lebih tinggi, yang sering tidak kita lihat sehingga tidak
perlu diprihatinkan. Apa pun ungkapan kebijakan yang bisa muncul dari bencana,
yang jelas Budi Kleden memperingatkan kesulitan untuk menerima “kehancuran alam
dan keretakan batin manusia” sebagai sarana yang dikehendaki Allah untuk
“tujuan yang mulia, yakni mempersatukan manusia pendosa ke dalam tatanan yang
harmonis” (hal 98).
Pemikiran lain yang disebut dalam buku Kleden menyangkut
kerangka keharmonisan adalah pemikiran Leibniz tentang kemungkinan terbaik dari
dunia ciptaan (the best possible world). Bisa dibayangkan bahwa penciptaan
manusia yang bebas merupakan pokok yang menjadi persoalan di sini karena Allah
tidak bisa memangkas konsekuensi dari penciptaan-Nya, yakni kebebasan manusia
yang konsekuensinya bisa memilih dan mendatangkan keburukan. Dalam kerangka
pemikiran privatio boni, teodice menempatkan keburukan (malum) sebagai
ketiadaan kebaikan saja. Sebagai ketiadaan atau kekosongan, keburukan tidak
mempunyai substansi yang perlu dikhawatirkan. Keburukan bukanlah prinsip dan
karenanya juga tidak menotalisasi.
Tidak ada keburukan yang menyeluruh di dunia. Setiap yang
buruk selalu hanya dalam arti parsial, bagian tertentu dari sesuatu; keburukan
hanya membonceng pada kebaikan. Dalam kerangka pemikiran ini penulis Teodice
sekali lagi memasukkan tokoh Agustinus, yang pemikirannya tentang teodice
rupanya mencakup hampir semua kerangka yang dipaparkan.
“Teodice” Yang Otentik
Budi Kleden mengakhiri rentetan ulasan teodice-nya dengan
mengemukakan ajaran Immanuel Kant sebagai teodice yang otentik (hal 195). Bagi
Kant, problem teodice terletak pada penggunaan rasio yang berlebihan, yang
melampaui batas kemungkinannya untuk berpikir logis, lebih dari itu dengan
berkutat pada rasio atau logika dalam pembicaraan tentang keadilan Allah,
teodice mempersempit kodrat manusia sekadar sebagai makhluk rasional.
Bagi Immanuel Kant secara keseluruhan manusia lebih dari
sekadar makhluk rasional. Ini karena selain rasio murni untuk memahami dan
rasio praktis untuk menjalankan tindakan, manusia juga mempunyai daya perasaan
untuk mempertimbangkan tujuan tindakan.
Dari sini bisa ditarik pengertian yang lebih luas tentang
perlunya tujuan terakhir segala sesuatu menuju kesatuan yang menyeluruh.
Manusia tidak saja menjadi tujuan pada dirinya, melainkan juga tujuan akhir
dari seluruh ciptaan. Oleh karena itu, ajaran Kant amat penting dalam
mempromosikan martabat “kemanusiaan”.
Kant mengemukakan fahamnya tentang teodice yang otentik,
yakni “membiarkan Allah sendiri menjadi penafsir dan pemberi keterangan
mengenai relasi antara kehendak-Nya dan keadaan dunia…. Teodice yang otentik
meminta pertanggungan jawab dari Allah, tetapi memberikan hak kepada Allah
untuk membela diri berkenaan dengan tuduhan yang muncul karena adanya malum di
dunia” (hal 220-221).
Dengan kata lain, manusia—filsuf atau teolog—tidak
seharusnya memberi keterangan seolah bisa mewakili penalaran Allah sendiri.
Namun, dalam arti ini, tampak bahwa teodice bergeser bukan lagi pembelaan Allah
sebagaimana lazimnya dimengerti, melainkan justru merupakan semacam tuntutan
kepada Allah untuk memberikan penjelasan terhadap persoalan malum. Masalahnya,
apakah Allah pernah akan menjawab tuntutan semacam ini? Kalau tidak melalui
penalaran teodice para filsuf dan teolog, lantas melalui cara manakah Allah
bisa diharapkan untuk memberikan penjelasannya?
Dari “teodice” ke Teologi Harapan
Dalam dua bagian akhir buku Teodice, Budi Kleden
membicarakan atribut-atribut Allah (bagian ketiga) dan Allah yang menderita
(bagian empat). Kedua bagian ini merupakan telaah yang sangat sukar untuk
pembaca biasa karena bagaimana pun juga terpaksa berspekulasi tentang Allah.
Namun, yang menarik, berbeda dari pemahaman kita sehari-hari
yang kurang kritis, Teodice menawarkan refleksi yang seolah bisa menelanjangi
Allah, bahkan dalam sifat-sifat kelemahan-Nya. Dalam bagian ketiga, misalnya,
dikemukakan antara lain pandangan Hans Jonas bahwa Allah tidak berdaya sebagai
risiko dari penggunaan kemahakuasaan-Nya untuk mencipta manusia dengan
kebebasannya.
David Blumental menerangkan bahwa dalam diri-Nya, Allah juga
merangkum kejahatan. Ada “kebukan-baikan” dalam diri Allah, yang bisa dirasa
melecehkan manusia ciptaanNya. Manusia harus mengajukan protes terhadap Allah,
kata Blumental (hal 258), karena Allah ikut bertanggung jawab atas hasil
ciptaan-Nya. Tokoh ketiga yang diajukan penulis adalah Wolfgang Borchert yang
mengajak orang beriman merenungkan ulang providentia dei (penyelenggaraan
ilahi) setelah didapatinya Allah lepas kontrol terhadap ciptaan-Nya. Providentia
dei yang baru menempatkan penafsiran tentang Allah mengikuti faham “Teologi
Proses”, yang melihat rencana ilahi bukan sebagai sesuatu takdir yang sudah
jadi, melainkan sedikit banyak tergantung juga pada tanggung jawab manusia.
Bagian terakhir dari buku memperlihatkan ciri Kristiani dari
teodice karena bicara mengenai Allah yang menderita dan salib. Oleh penulis
ditampilkan Eberhard Jüngel yang memperlihatkan kemahakuasaan Allah dalam
cinta, melalui Yesus Kristus dan teologi Jürgen Moltman yang mengangkat harapan
dari refleksi mendalam tentang peristiwa salib. Menurut Moltman, dalam Allah
sendiri terdapat dialektika.
Pada akhir buku ini, penulis mengutarakan, inti harapan
manusia terletak pada kenyataan bahwa Allah solider pada manusia yang menderita.
Di satu pihak dia tidak bisa menolong menghilangkan penderitaan yang terjadi di
dunia karena dosa, dari lain pihak dia bukan tidak berbuat apa-apa. Penderitaan
Yesus disalib merupakan ungkapan paling nyata dari solidaritas tersebut. Namun,
inti persoalannya bukan penderitaan itu sendiri, betapa pun ngerinya
penderitaan pada salib, melainkan cinta Allah yang solider itu. Ini karena,
penderitaan sendiri tidak bermakna, atau dari penderitaan tidak dapat ditangkap
secara langsung motivasi kebaikan Allah. Padahal, justru dalam penderitaan
itulah terlaksana atribut-atribut kemahabaikan dan kemahakuasaan Allah (hal
323).
Akhir Kata
Teodice (2006) merupakan buku dengan topik yang diulas
secara mendalam dan kaya akan refleksi yang menarik karena di situ dipersoalkan
hubungan dilematik antara kemahakuasaan dan kemahabaikan Allah dengan
penderitaan manusia, atau adanya malum di dunia.
Di dalamnya banyak gagasan baru yang jarang kita dengar
tentang Allah karena kita terbiasa dengan pemikiran kesalehan yang naif dan tidak
kritis. Namun, buku ini, meskipun sudah diberi ilustrasi dengan teks-teks dari
kesusastraan dan contoh-contoh tentang penderitaan pada bagian depan, tetap
merupakan telaah teologis yang berat sehingga hanya mereka yang sudah belajar
filsafat dan teologi saja, atau orang yang mau merenungkan imannya secara
serius, yang bisa memahaminya.
Sumber







